Tampilkan postingan dengan label Memories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Memories. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Juni 2024

KERETA DALAM MEMORI

Bondowoso, 26 Juni 2024

 Kereta Dalam Memori

Hamburg, Sabtu 12 Februari 2022 17.14 

Kereta, adalah pernah menjadi kendaraan yang paling ingin aku naiki. Pertama kali aku naik kereta, perjalanan Bondowoso-Banyuwangi, (kalau tidak salah ingat) yaitu waktu aku umur 5 tahun, sekitar tahun 2003, satu tahun sebelum kereta api di Bondowoso berhenti beroperasi . Ah waktu itu, gerbong kereta di Bondowoso masih beroperasi layaknya gerbong kereta di stasiun-stasiun lainnya.

Perjalanan dengan kereta api pertamaku waktu itu berlangsung sangat tidak mengasyikan. Dalam ingatan memori yang masih lekat di kepalaku adalah suasana yang sesak, kumuh, gelap. Kursinya memanjang di sepanjang tepi dinding kereta, menyisakan satu koridor panjang yang sedikit lebih lapang dari pada koridor kereta modern saat ini yang justru menjadi tempat berjualan bagi para pedagang kaki 2 waktu itu. Kursi kayu yang keras, banyak sekali orang yang tidak mendapat kursi sehingga harus berdiri layaknya di KRL jaman sekarang. Di sebelahku ada bapak-bapak setengah baya membawa seekor ayam jantan dengan kiso lusuh yang dikenakannya di ayam jantan kesayangannya (mungkin) itu. Aku tak tahan dan menangis pada ibu. 

"Ebok... aku mau turun. Perutku sakit" rengekku

"Sudah..sudah. setelah ini sampai" kata ibu membujuk. 

Aku coba untuk meredam rasa tidak enak di perutku waktu itu, aku mabuk. Aku mabuk darat untuk yang pertama kali. Perjalanan yang sangat membuatku ingin langsung pulang.

Perjalanan dilanjutkan. 

Aku semakin tidak tahan dengan semua suasana di kereta, perutku sudah tak dapat dikompromi lagi. Aku menangis sejadi-jadinya. Ibuku panik. Setelah berdiskusi dengan Bapak dan anggota keluarga lainnya, akhirnya aku dan Ibu turun di stasiun terdekat. Untungnya itu sudah sampai di Banyuwangi, meskipun belum sampai di stasiun terdekat dengan rumah kerabat kami di Banyuwangi. 

Aku turun. Sebuah mobil sedan merah menjemput kami. Kami naik ke mobil itu dan aku tertidur.

Sampai sana ingatanku berakhir. 

Satu hal yang aku ingat semasa anak-anak : Naik kereta sangat menyeramkan. 

Sampai entah pada tahun berapa tepatnya, kudengar PT KAI sudah merenovasi habis-habisan desain dan pelayanan kereta api di Indonesia. Aku belum berani naik kereta api

Sampai pada tahun 2016, aku berkuliah di Jember. Aku bertemu teman-teman dari Banyuwangi yang notabennya mereka akan pulang setiap akhir pekan dengan naik kereta. Aku tanya pada mereka apa benar kereta api sudah membaik? apa benar sudah tidak ada laki-laki separuh baya yang menggendong ayam dalam kiso?. YA! kata mereka semua baik. Kursinya empuk berderet hadap-hadapan depan dan belakang. Tidak ada lagi pedagang kaki 2 yang berseliweran keluar-masuk.

Ah aku jadi penasaran...Aku pengen naik kereta lagi!!

TAPI KEMANA? haha

Sampai tahun 2017 (mungkin), waktu itu kalau tidak salah ingat semester 3 atau 4, aku menempuh mata kuliah Kewirausahaan (KWU) yang melaksanakan pembelajaran di kebun buah naga di Banyuwangi. 

Wahhhh..Binggo! 

Kami satu kelas akan naik kereta api ke Banyuwangi, tidak tanggung-tanggung, kami akan mengambil alih 1 gerbong! keren sekali. 

Pengalaman pertama naik kereta setelah 14 tahun tidak pernah naik kereta mungkin akan terasa sangat mengasyikkan!!

Aku benar-benar begitu excited!

Ya,pengalaman pertama seringkali melekat di ingatan. Aku duduk bersama 3 temanku, satu duduk disebelahku dan 2 yang lain duduk di depanku. Aku membawa sedikit cemilan untuk dimakan saat di kereta. 

Semua persis seperti yang dikatakan oleh teman-teman, kereta api modern sama sekali berbeda dengan kereta yang aku tumpangi pada 2003 silam. Aku bahkan sampai mondar-mandir di lorong kereta mengunjungi teman-teman lainnya yang duduk di sisi lain. Aku begitu bahagia waktu itu, haha. 

Ah rasanya, rasa bahagia itu bahkan muncul dari hal-hal sesederhana itu. 

Berikutnya, aku mengalami pengalaman-pengalaman naik kereta lagi bersama teman, bersama orang tua atau sendiri. Aku pergi bepergian ke Banyuwangi, Surabaya, Malang, Jogja, Jakarta dll. Perjalanan yang terlalu panjang dengan kereta api ekonomi, misalnya ke Jakarta dapat sangat-sangat melelahkan. Ahhh... pengen turun saat itu juga rasanya ketika suntuk di kereta. 

Jember, Jumat 10 Januari 2020 17.09 (Perjalanan ke Banyuwangi untuk landing nyamuk Anopehles)


Lempuyangan, Jumat 24 September 2021 06.40 (Perjalana pulang dari Jakarta setelah membuat visa Jerman)

Perjalananku naik kereta rupanya tidak seputar melalui KAI saja. Aku juga berkesempatan menumpangi Kereta Api yang katanya tercepat di dunia, Shinkansen!!. Aku menaiki Shinkansen pertamaku di Hiroshima, Jepang saat melaksanakan student exchange pada tahun 2018. Wah itu gila, perjalanan setara jarak Jember-Surabaya hanya ditempuh dalam 1.5 jam. Itu cepat sekali!

Kursinya berderet dua-dua. Empuk. Nyaman sekali, dan tentu saja cepat sekali. Aku tidak ingin tertidur barang sedetik waktu itu, tak mau kehilangan setiap momen duduk di kereta. Bukan sembarang kereta, ini Shinkansen! Aku tak tahu kapan lagi bisa menaiki kendaraan super mewah ini, dan benar sampai hari ini aku belum pernah lagi kesana. Hehe....

Hiroshima, 6 Agustus 2018, 06.39 (Perjalanan menuju lokasi ceremonial Bom Atom Hiroshima)



Hiroshima, 6 Agustus 2018, 12.140 (Perjalanan pulan dari lokasi ceremonial Bom Atom Hiroshima)

Pengalaman lain aku dapatkan saat menaiki kereta api yang tak kalah cepat dengan Shinkansen,  yaitu kereta api di Jerman!. Aku menempuh studi S2 ku di Flensburg, kota kecil di Jerman bagian utara. Perjalanan antar kota ditempuh dengan kereta. Orang lokal menyebut stasiun dengan Bahnhof. 

Hal menakjubkannya, sebagai mahasiswa aku bisa naik kereta dengan GRATISS! dalam perjalanan antar kota di satu provinsi hehe. Hal itu sangat amat menguntungkan bagiku. Hampir setiap akhir pekan aku akan pergi berpergian ke luar kota, menjajaki setiap kota di Provinsi Schleswig-Holstein, perjalanan ke Hamburg misalnya, ibu kota  Schleswig-Holstein memakan waktu 2 jam dengan satu kali transit. Aku akan menaiki kereta RE7 ke Neumünster atau ke Rensburg. Aku hanya punya waktu 5 menit untuk turun dan berpindah ke peron kereta RE7 berikutnya untuk menuju Hamburg. Tapi saat ini sudah ada kereta Flensburg-Hamburg yang tanpa transit, hal ini sangat membantu. 

Lübeck, 29 Januari 2022, 10.26 (Perjalanan pulang dari Lübeck menuju Flensburg)

Jübeck, Sabru 29 Januari 2022, 07.30 (Perjalanan ke Lübeck dari Flensburg)

Ada satu pengalaman yang tak terlupakan ketika aku baru saja sampai di Jerman pertama kalinya. Aku turun di Bandara Hamburg dan kemudian melanjutkan menaiki kereta bawah tanah menuju Hamburg HaufBanhof (Stasiun pusat Hamburg). Kemudian setibanya di Hamburg HaufBhanhof aku dan Khalid, temanku dari Indonesia mencari rute ke Flensburg dengan berbekal bertanya dengan orang sekitar atau membaca pentujuk yang tertera di peron stasiun. Berikutnya kami menaiki sebuah kereta berwarna hitam yang rasanya super elit, dengan bangku duduk yang mewah dan saling berhadap-hadapan. Kata petugas stasiun ini benar kereta menuju Flensburg. Baiklah kami mencari tempat duduk sesuai dengan yang tertera di tiket kami yang sudah dipesankan oleh Prof. Labes. Ah aneh sekali, di tiket kami tidak ada nomor kursi seperti pada tiket KAI. Kereta yang kami naiki mulai melaju sedangkan kami belum juga duduk, masih kebingungan mencari tempat duduk.
Akhirnya kami menemukan petugas lainnya dan bertanya seraya menunjukkan tiket yang kami punya.
Dan....Alamakkk......kami salah naik kereta! haha
Kereta yang kami tumpangi memang benar akan menuju ke Flensburg, itu adalah kereta kelas eksekutif sedangkan tiket kereta yang kami punya hanya kereta kelas ekonomi. Alhasil kami harus turun segera di stasiun terdekat selanjutnya.
Kami turun.
Satu jam kemudian, kami menemukan Kereta RE7 menuju Flensburg. Kali ini keretanya tepat!

Umumnya kereta di Jerman akan datang setiap jam sekali, jadi jika ketinggalan kereta yang ingin kita naiki, kita dapat menunggu 1 jam kemudian untuk menunggu kereta dengan tujuan yang sama berikutnya. Jam perjalanan dapat lebih fleksibel. Namun, beberapa kali perjalanan kereta dapat tertunda saat ada badai atau cuaca ekstrim yang buruk.

Sekarang aku sudah jarang sekali melakukan perjalanan dengan kereta. Ah lebih tepatnya, aku jarang melakukan perjalanan jauh. Aku rindu sekali naik kereta. 

Aku rindu suara panggilan di stasiun, suara desingan rel kereta api dengan ribuan roda kereta api yang riuh dan hal terbaiknya adalah aku bisa duduk di sisi dekat jendela untuk menonton pemandangan gratis sepanjang perjalanan. Hal menyenangkan lainnya adalah aku bisa berbincang dengan orang asing yang mengasyikkan jika beruntung. Jika tidak beruntung aku mungkin hanya akan menyapa "Turun dimana Bu/Pak/Mas/Mbak?" basa-basi sekedar ingin tau kapan aku bisa mendapatkan ruang lebih untuk berselonjor di kursi mereka saat mereka turun. hehe 

Mungkin dalam waktu dekat aku ingin melakukan perjalanan kereta api dekat, sendiri. Sekedar memenuhi rindu. 

Hehe


Sabtu, 11 Mei 2024

Seribu Langkah yang Belum Usai

 

Seribu Langkah yang Belum Usai
Sebuah refleksi dari perjalanan literasi yang masih diperjuangkan-

Oleh : Nuril Azizah

Sabtu, 16 Desember 2024

 


“...tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati... -kata Arai pada Ikal dalam buku Sang Pemimpi halaman 143 karya Andrea Hirata

Mantra  ini, salah satu yang menemani saya menapaki  mimpi-mimpi saya hingga hari ini. 

Saya pernah diberkahi untuk dapat belajar di negeri orang, 11.000 mil jauhnya dari rumah. Belajar bertetangga di negeri tetangga yang bahasanya sama sekali asing untuk saya, menyentuh dinginnya salju untuk pertama kalinya atau merasakan teriknya musim panas yang bahkan jauh lebih panas dari kampung halaman saya serta melihat dedaunan mapel yang hijau berubah menjadi oranye saat musim gugur tiba. Ah.. yang paling menyenangkan, melihat hamparan bunga Crocus berwarna ungu saat musim semi tiba. Semuanya, selain berkah dari doa dan ridho orang tua serta guru, juga berkah dari sebuah novel karya Ahmad Fuadi  yang saya baca 12 tahun yang lalu, tepatnya ketika saya duduk di kelas 1 SMP. 

Saya ingat betul, ketika pendaftaran SD  tahun 2004 silam, saya hampir ditolak oleh pihak sekolah, selain karena umur saya yang masih dibawah 7 tahun, saya juga belum mampu membaca dan menghitung dengan baik dan benar. Namun, berkat Ibu saya yang membujuk dan meyakinkan bapak ibu guru bahwa saya akan lancar membaca setelah satu semester, akhirnya saya lolos juga. Belajar membaca bukanlah hal yang mudah bagi saya, saya seringkali mendapat pecutan ringan lantaran malas belajar atau malas membaca soal uraian yang panjang dan justru menjawab soal dengan asal. Alhasil saya seringkali mendapat teguran dari guru-guru. Singkat cerita, saya ingat waktu itu kelas 5 SD. Saya sedang bermasalah dengan teman sekelas dan membuat saya tidak punya teman bermain selama kurang lebih satu bulan. Alhasil saya sering menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan sekolah yang usang dan berdebu. Saya menemukan satu buku cerita pertama yang saya khatamkan saat SD, saya tidak ingat judulnya namun kisahnya tentang seorang anak yang mulai beternak saliva walet dan dijadikan sumber penghasilannya. Bagi saya itu keren sekali, untuk seukuran anak SMP, tokoh utama dalam kisah tersebut mampu membuat usaha yang menguntungkan. Sejak itu, saya mulai banyak menghabiskan waktu untuk membaca buku cerita. 

Mengingat perpustakaan sekolah saya yang usang dan berdebu, dan sebab saya tak mampu membeli buku-buku dengan uang saku saya, akhirnya saya berinisiatif pindah lapak ke perpustakaan daerah kota Bondowoso. Perpustakaannya juga tak kalah usang dan berdebu, yang menandakan jarang sekali masyarakat kota Bondowoso datang menjamah buku-buku disana. Namun koleksi bukunya jauh lebih baik dari perpustakaan di sekolah saya. Saat itu, saya sudah naik kelas 7 SMP. Saya menemukan novel pertama yang saya baca, dan menjadikan saya berani bermimpi sejauh ini. Novel karya Ahmad Fuadi, yang berjudul Negeri 5 Menara, yang merupakan buku  Trilogi dari 2 judul lainnya yang saya khatamkan setelahnya, Ranah 3 Warna dan Rantau 1 Muara. Dalam novel pertamanya ini mengisahkan seorang anak bernama Alif yang sangat brilian dan cerdas, namun melanjutkan SMA ke pesantren yang notabennya belajar agama. Namun, alih-alih menjadi kolot dan jauh dari perkembangan ilmu pengetahuan, Alif jadi banyak belajar bahasa asing, menulis, membaca kitab serta khasanah kehidupan yang lain. “Man Jadda wa Jada”, pepatah arab yang tertulis di novel itu. Siapa yang bersungguh-sungguh, maka Ia akan berhasil. Selain itu, dalam novel itu menceritakan Alif yang berkeinginan kuat untuk menjelajah dunia dengan bekal yang Ia dapat dari berbahasa asing.Hal ini yang kerap saya ingat dan menjadi panutan saya bahwa orang kecil seperti saya pun boleh bermimpi jauh dan tinggi.

Saya yang masih SMP waktu itu, sangat mudah terpengaruh dan akhirnya memutuskan untuk melanjutkan SMA di Pesantren juga. Cukup klise memang, namun hal itu yang terjadi pada saya. Saya akhirnya belajar bahasa asing, melalui percakapan sederhana dan kegiatan membaca. Selain itu, saya juga akhirnya sedikit kecanduan membaca kisah-kisah spektakuler dari penulis-penulis ternama lainnya. Saya selalu menyempatkan diri untuk datang ke perpustakaan kota maupun perpustakaan sekolah. Saya mengingat buku-buku yang asik saya baca, kisah Tambelo Kembalinya Si Burung Camar karya Redhite K, atau sekuel kisah cinta Aisyah dan Fahri dalam Novel Ayat-Ayat Cinta karya Kang Abik (Habiburrahman El Shirazy), petualangan Raib dan sahabatnya di dunia paralel  dalam sekuel Bumi karangan Tere Liye, perjalanan panjang Agustinus Wibowo di negara pecahan Uni Soviet dalam bukunya yang bertajuk Garis Batas atau bahkan sekedar koran-koran harian yang kunikmati di majalah dinding sekolah. Selain itu, saya juga banyak menyukai buku-buku sejarah, khususnya sejarah manusia purba seperti buku karangan Y.N. Harari yang berjudul Sapiens: A Brief History of Humankind, atau sejarah kebudayaan islam serta sejarah kerajaan Nusantara. Kerajaan Majapahit adalah kisah favorit yang paling saya gemari.  Dari rangkaian buku yang mencekoki isi kepala saya, saya jadi berangan untuk menjadi penulis. 

Saya awali dunia kepenulisan saya dengan menulis buku diary sejak masa SMA. Saya menyimpan semua buku diary tersebut hingga hari ini. Saat ini, jika membaca ulang tulisan-tulisan diary saya ketika masa remaja itu,  saya bisa tersenyum geli mengingat tingkah saya yang banyak gaya. Selain menulis diary, akhirnya saya juga memulai menulis cerpen-cerpen sederhana, artikel, karya ilmiah, essai dan lain-lainnya. Berkat pribadi saya yang sedikit melankolis serta latar belakang pendidikan sains yang pernah saya tempuh, saya bersama dua rekan saya pernah berhasil meraih juara esai internasional yang bertajuk Love Story in 2050, The fight against Alzheimer’s disease with CRISPR-Cas9. Is it possible?. Memang bukan hal yang sangat spektakuler, namun sangat berarti bagi perkembangan menulis saya. Belakangan ini saya mencoba untuk mengelola blog pribadi saya bertajuk pengalaman-pengalaman pribadi semasa sekolah hingga saat ini, pengetahuan sains sederhana, pembelajaran Bahasa Inggris, serta cerita bersambung. Dalam salah satu mata kuliah di program profesi guru yang saya tempuh juga memberikan ruang untuk menuliskan hasil pemikirannya dalam sebuah blog. Saya cukup senang dengan hal itu karena memberikan ruang bagi saya untuk mengasah kemampuan saya. 

Melompat ke masa kini, sore ini di beranda rumah saya, saya kembali membuka diary saya yang saya tulis 10 tahun silam saat saya SMA. Saya tuliskan besar-besar di buku itu tentang keinginan saya untuk menjadi seorang penulis buku. Perjalanan panjang yang harus saya akui bahwa saya belum memberikan cukup ruang bagi diri saya untuk mengembangkan potensi menulis saya. Hal ini terbukti hingga hari ini saya belum berhasil menulis buku. Ah, sangat disayangkan. Namun hal ini menjadi penyemangat kembali bagi saya untuk meneruskan mimpi saya itu.

 


Selasa, 26 September 2023

Hukum Newton 1

 

Jadi, Hukum I Newton ini menjelaskan bahwa setiap benda yang diam akan tetap diam, dan setiap benda yang sedang bergerak akan terus bergerak, selama nggak ada resultan gaya yang diberikan atau bekerja pada benda tersebut.


Saat kamu sudah mulai bergerak mengejar mimpimu, bisa jadi berhenti berlari mengejar impianmu itu masih lebih sulit daripada mengejar mimpi itu sendiri. 

Kadang, keinginan kita untuk memiliki suatu hal masih lebih besar dari hal itu sendiri.

Hari ini aku berjuang siang malam, memahami soal-soal fisika dan kimia yang dulu sangat aku tidak suka. Aku belajar sampai lupa waktu. Am I just too much? haha

Idk

Sabtu, 06 Mei 2023

 

Hello, good morning. It's been very while since the last time I write something here, kinda miss you my blog. Today, I decide to come over just to drop some words and say that I love you.

what's new??

This is my students' photo taken when they were celebrating library national day in the library. I was not captured in that photo, hehe. 

wait..., when was the last time I drop here? last year? 2022. hahaha, okay then I want to tell you that since I went home from Germany last year, I started  to be an english teacher for elementary school student, basically for kids. It's been almost my 10th month of being teacher there. On the other hand, I also become a biology teacher for olympiad preparation through SuperProf (if you remember this platform, I have made it since I was in college, then finally I have one student). That's bravo to me. And what else? the amazing thing is now I manage my own small course instituion in my house. In total I have 10 students (other than my students at school). They are Aini, Rere, Alea, Sinar, Ifa, Yasmin, Naura, Chika, Farid, Echa and Reyhan. But today, some of them are no longer go study to my house, but all is fine. I will have more time to rest.

The newest thing is now, today, I'd go to the junior high school 1 of Bondowoso and I'd get hired as biology olympiad preparation teacher for their students. I'd say this is cool!! at least to me. hehehe

However, I also did a lot of unusefull things yesterday, do you know whattt? I did play my phone for 11 hours 43 mins!!!! that's damn crazyyyy rightttt?

fyuhhh... I did not do all my to do list, all I do is just laying on my bed and doing an endless scrolling and chatting with my phone, fyuhhhh...

today I'd make something different, I hope so. I am gonna back to the track and live my life happily.

I love my self. 

I date my self. 

and all is fine. 


Hey Gingko Biloba, I'll be right back. I will write more. Hehe

Me myself

 There always be the one who love you the most, it's you. and only you, yourself.

No matter how bad u have done, you're still gonna be with yourself, and love you forever. 

even sometimes u may hate yourself for being not pretty or being bad in attitude, however you stil be with your self, and you are the only one who can change yourself. no matter what

Senin, 28 Maret 2022

Kripik singkong

              28 Maret 00:56

      Flensburg, Germany



Judul : Laut Bercerita

Penulis : Leila S. Chudori

Cetakan : Pertama, Oktober 2017

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : x + 379 halaman

ISBN : 978-602-424-694-5


Matilah engkau mati

Kau akan lahir berkali-kali


Gelap adalah bagian dari alam, tetapi jangan sampai kita mencapai titik kelam, karena kelam adalah tanda kita sudah menyerah. Kelam adalah sebuah kepahitan, satu titik ketika kita merasa hidup tak bisa dipertahankan lagi

 

Kematianku tak lebih seperti saat seorang penyair menuliskan tanda titik pada kahir kalimat sajaknya. Atau seperti saat listrik mendadak mati.


Di kampus kita hanya belajar disiplin berpikir, tetapi pengalaman yang memberi daya dalam hidup adalah di lapangan.


Tak semua keluarga harmonis dan menyenangkan seperti keluargamu, Laut. Kau beruntung.


Daniel pun terkadang tak sabar dengan kepolosan anak-anak semester satu yang bacaannya masih minim ─ menunjukkan betapa Daniel atau Tama sering lupa bahwa anak Indonesia tidak tumbuh dengan kebiasaan membaca atau berlatih berpikir kritis.


Terus terang, memang agak repot menghirup sumsum tulang kambing di tempat yang berdesakan seperti itu. Padahal sumsum tengkleng yang sudah bercampur santan cair dan bumbu kunyit, bawang putuh, serta serai itu sama seperti sumsum kehidupan. Nikmat tanpa tandingan.


If your photographs aren't good enough, you're not close enough

Jika foto Anda tidak cukup baik, Anda tidak cukup dekat

~Robert Capa


Naratama mengaku berhasil kabur bersama video yang dicari itu ketka unjuk rasa mulai dibubarkan polisi. Apa sih isi video itu? Ternyata isinya hanya beberapa latihan teater Sang Penyair dengan para buruh pabrik. Sebetulnya tidak berbahaya, tetapi saat itu Sang Penyair dan puisi-puisinya menyababkan pemerintah dan tentara sewot, maka kami merasa apa pun yang bersangkutan dengan Sang Penyair yang bisa membakar aktivis buruh sebaiknya disimpan dulu.


Cinta datang begitu saja, tanpa rencana, tanpa pengumuman. Dia lahir dan tumbuh sebagai reaksi pertemuannya dengan sekuntum bunga…

~Naratama


Mas ceritkan ketika dulu kau melamar Mbak Ariani. Apakah kau menggunakan puisi-puisimu?”

Sang Penyair tertawa kecil. “Tidak. Percintaan Ari dengan aku adalah percintaan yang polos. Kami tak butuh kata-kata, apalagi puisi.”

“Bagaimana kau tahu Mbak Ariani adalah perempuan yang tepat untuk hidup bersama?”

Sang Penyair tampaknya tak menyangka aku bakal melontarkan pertanyaan pribadi seperti itu. Tetapi kelihatannya dia tidak keberatan berbagi. “Ari tidak pernah berharap apa pun dariku. Aku hanya memiliki tubuh dan baju yang melekat ini. Aku tak pernah selesai sekolah, apalagi punya gelar. Modalku hanya hati yang jujur dan daya hidup. Bagi Ari, semangatku memperjuangkan keadilan sudah cukup membuat dia memmutuskan untuk hidup bersamaku selamanya.” 


Aku ingin sekali perempuan tak selalu menjadi korban, menjadi subjek yang ditekan, yang menjadi damsel in distress…

~Anjani


“…

Seonggok jagung di kamar

Tak akan menolong seorang pemuda

Yang pandangan hidupnya berasal dari buku

Dan tidak dari kehidupan…

…

Aku bertanya:

Apakah gunanya Pendidikan

Bila hanya akan membuat sesroang menjadi asing 

Di tengah kenyataan persoalannya…”

(Rendra, “Sajak Seonggok Jagung”)


“Apa yang sebetulnya kita kejar?”

Kinan mengambil tanganku dan menggenggamnya, “Kekuatan, Laut. Keinginan yang jauh lebih besar untuk tetap bergerak. Ini semua menaikkan militansi kita, bukan memadamkannya.”


“Kita tak selama-lamanya berada di bawah pemerintahan satu orang selama puluhan tahun, Laut. Hanya di negara diktator satu orang bisa memerintah begitu lama… seluruh Indonesia dianggap milik keluarga dan kroninya. Mungkin kita hanya nyamuk-nyamuk pengganggu bagi mereka. Kerikil dalam sepatu mereka. Tapi aku tahu satu hal: kita harus mengguncang mereka. Kita harus mengguncang masyarakat yang pasif, malas, dan putus asa agar mereka mau ikut memperbaiki negeri yang sungguh korup dan berantakan ini, yang sangat tidak menghargai kemanusiaan ini, Laut.”


“Setip langkahmu, langkah kita, apakah terlihat atau tidak, apakah terasa atau tidak, adalah sebuah kontribusi, Laut. Mungkin saja kita keluar dari rezim ini 10 tahun lagi atau 20 tahun lagi, tapi apa pun yang kamu alami di Blangguan dan Bungurasih adalah sebuah langkah. Sebuah baris dalam puisimu. Sebuah kalimat pertama dari cerita pendekmu…”


“Aku tak tahu apakah aku sudah membuat jejak atau belum selama hidupku.”

“Sudah. Kamu membuat bait pertama dari puisi hidupmu. Kamu melawan.”


Sesekali, aku membayangkan kita berdua bisa keluar dari dunia yang kita kenal ini, meloncat melalui sebuah portal dan masuk ke dimensi lain di mana Indonesia adalah dunia yang (lebih) demokratis daripada sekarang; presiden dipilih berdasarkan pemilu yang betul-betul adil; pilar-pilar lain berfungsi dengan baik: perangkat hukum dan parlemen tidak berada di dalam genggaman seorang diktator dan perangkatnya; pers bisa bebas dan tak memerlukan sebuah departemen yang berpretensi “mengatur” padahal bertugas membungkam. Apakah kita akan pernah hidup dalam Indonesia yang demikian? Indonesia yang tak perlu membuat para aktivis dan mahasiswa yang kritis harus hidup dalam buruan dan sesekali mendapat bantuan dari berbagai orang baik, termasuk Utara Bayu? (hal: 211).


Blangguan 🡺 Situbondo, Jawa Timur 🡺 Aksi Tanam Jagung

Bungurasih 🡺 habis dari kantor DPRD Surabaya 🡺 Mau pulang ke Yogyakarta


Aku tak akan menyadari betapa perempuan pencipta kehidupan, penggerak matahari dan peniup ruh kegairahan hidup

~Laut


Jika aku bisa memutar waktu, aku tak akan jahil dan aku akan menemanimu yang takut akan gelap. Kegelapan yang membuat gerah seperti ini, yang membuat seolah waktu berhenti, memberikan rasa sepi.


Jangan takut kepada gelap. Gelap adalah bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Pada setiap gelap ada terang meski hanya secercah, meski hanya diujung lorong. Tapi menurut Sang Penyair, jangan sampai kita tenggelam pada kekelaman. Kelam adalah lambang kepahitan, keputus-asaan, dan rasa sia-sia. Jangan pernah membiarkan kekelaman menguasai kita, apalagi menguasai Indonesia.


Dan yang paling berat bagi semua orang tua dan keluarga aktivis yang hilang adalah: insomnia dan ketidakpastian. Kedua orang tuaku tak pernah tidur dan sukar makan karena selalu menanti “Mas Laut muncul di depan pintu dan akan lebih enak makan bersama”.


Menjaga jarak dengan pasien dan menekan emosi adalah salah satu prasyarat bagi kami agar bisa konsentrasi dalam merawat dan mengobati


Di dalam dunia medis, masih banyak hal-hal yang gelap, penyakit yang belum bisa diobatai, tetapi kami selalu bersikap optimistic karena rekan-rekan kami para peneliti terus menerus bergulat mencari obatnya. Harapan itu tetap terjaga karena ada keinginan, kerja keras, dan ilmu yang terus menerus diuji. Sedangkan apa yang kuhadapi sekarang adalah sesuatu yang asing; tak pasti, terus menerus menggerogot rasa optimisme dan kemanusiaan.


Masa-masa Soeharto masih berkuasa yang membiasakan orang untuk mengunci mulut itu menyebabkan mereka semua mengalami trauma besar. “Kita harus bersabar menanti agar mereka mau membuka diri pada saatnya,” kataku pada Aswin.


Ketidaktahuan dan ketidakpastian kadang-kadang jauh lebih membunuh daripada pembunuhan.


“Pak, pak, tolong bantu aduk opornya, Mas Laut maunya santannya tidak pecah…”

Ibu mengangguk-angguk, kini puas dengan rasa gudegnya. “Lebih sempurna masak dengan panci tanah liat ya Pak… yo wis.. ndk apa. Yang penting Mas Laut suka…”


Kegairahan merangkul proses. Itulah yang aku suka dari Alex.

~Asmara


Tak ada yang sempurna di bawah langit.

~Biru Laut Wibisana


“Asmara… kita hidup di negara yang menindas rakyatnya sendiri. Bapak senang berada di antara anaka-anak muda yang mengerti bahwa bergerak, meski hanya selangkah dua langkah, jauh lebih berharga dan penuh harkat daripada berdiam diri.”


Demostrasi kamisan


“Kembali dalam kepompong, karena disana ada Mas Laut, lengkap dengan semua kenangan…”


“Pesannya untukmu diucapakan hanya beberapa saat sebalum dia, Julius, dan Dana dijemput…” Alex berhenti dan menggosok air matanya. “Dan berkata, ‘kalau sampai aku diambil dan tidak kembali, sampaikan pada Asmara, maafkan aku meninggalkan dia ketika bermian petak umpet.”


Malena memegang pipiku dan memandangku dengan lekat. “Aku tahu kamu pasti menganggap rumah sakit sebagai suakamu.”

Aku mengangguk. Dia sungguh tahu diriku melebihi siapa pun.

“Itu harus kau selesaikan. Rumah sakit dan pekerjaanmu sebagai dokter harus kau anggap sebagai rumahmu, sebagaimana rumah orang tuamu juga. Percayalah, perlahan-lahan, ibumu akan menyadari kehadiranmu.”


Ibu tadi bermimpi… rasanya Mas Laut duduk di sini, persis di tempatmu duduk sekarang, di tepi tempat tidur. Dia kelihatan kurus, badannya kok penuh biru lebam, Ibu tanya, ‘Kenapa Nak… kok kamu habis jatuh?’ Mas Laut menjawab, ‘Aku nggak apa-apa Bu, aman, tentrem….’, lalu dia memeluk Ibu sambil bilang, ‘Bu, Ibu jangan melupakan anak ibu satu lagi. Dia butuh Ibu. Bukan hanya Ibu yang butuh dia. Janji ya Bu. Itu anak Ibu satu-satunya sekarang…”


Jika jawaban yang kalian cari tak kunjung datang, jangan menganggap bahwa hidup adalah serangkaian kekalahan. Di dalam upaya yang panjang dan berjilid-jilid itu, pasti ada beberapa langkah yang signifikan.


Sampaikan pada Bapak aku akan selalu memberi pesan melalaui alam: ikan, dedaunan, dan kuncup bunga yang belum mekar

Sampaikan pada Ibu bahwa beliau adalah koki terhebat yang pernah kukenal. Semua bumbu dan resep kupelajari darinya dan jangan berhenti menciptakan resep baru seperti halnya jangan pernah berhenti memulai hal baru tanpa aku. Aku akan selalu ada, tetapi Ibu (dan Bapak) hanya berpisah sementara denganku. Kita pasti akan bertemu lagi suatu hari, entah dalam bentuk apa


Bertemu, berkencan, dan mencintai lelaki lain tak berarti dia berpaling dariku, karena apa pun yang terjadi aku sudah menjadi bagian dari hidupnya.


Asmara, kukirimkan semua pesan ini melalui sayap-sayap ikan pari; melalui bunyi rintik hujan ketika menyentuh tanah dan melalui bunyi kepak burung gereja yang hinggap di jendela kamarmu. Aku yakin kau akan bisa menangkap pesanku, membaca ceritaku. Dan aku percaya kau akan menceritakan kisahku kepada dunia.

Bonus quotes, ‘just for you’

The happiest people don't have the best of everything, they just make the best of everything.


Be like the sun for grace and mercy. Be like the night to cover others' faults. Be like running water for generosity. Be like death for rage and anger. Be like the Earth for modesty. Appear as you are. Be as you appear. ” ~Rumi

“Courage doesn't always roar. Sometimes courage is the quiet voice at the end of the day saying, "I will try again tomorrow. ~Mary Anne Radmacher





Why complain about yesterday, when you can make a better tomorrow by making the most of today?


Author : Mas Laut


Selasa, 15 Februari 2022

Bintang

 


Flensburg, 10.12.2021

Namaku Bintang

Namaku bintang (nama samaran). Aku selalu mudah tersenyum, tertawa dan menangis. Hal-hal kecil menyentuhku sangat mudahnya, aku besyukur tentang hal itu. Namun, kadang itu cukup menyakitkan jika harus menangis untuk hal-hal yang tak layak untuk ditangisi. Hatiku ‘tidak atau ‘belum’ kuat seperti orang lain pada umumnya.  Aku seperti mudah terjatuh, dan jga mudah untuk bangun lagi, persis seperti anak 5 tahun yang sedang belajar naik sepeda. Aku tidak tahu, apakah hal seperti ini wajar untuk dimiliki seorang berusia 23 tahun (yang tak lama lagi akan beranjak 24).

Namaku bintang (nama samaran). Mungkin beberapa orang terdekatku akan tau nama asliku ketika aku menggunakan nama samaran ‘bintang’. Siapa lagi yang mencintai bintang sebanyak ini selain aku? Haha. Siapa lagi yang selalu menggunakan nama samaran bintang selain aku?. Aku tidak mengerti kenapa, ketika aku sedang … hummm katakanlah ‘bergunjing’ tentang seseorang (tidak boleh ditiru) aku selalu mengganti nama si X dengan sebutan ‘bintang’. Dari sekian banyak nama samaran yang bisa ku pakai, hanya ‘bintang’ yang selalu muncul pertama di benakku. Bintang.. mmm bagaimana pertama kali aku jatuh cinta padanya? Haha. Aku sangat ingat pada waktu itu aku sedang bermain ‘tempuran’ (ini permainan khas anak-anak pada jamannya, aku tak tau apakah anak jaman sekarang akan tau permainan ini atau tidak, mungkin di beberapa daerah memiliki permainan serupa dengan nama yang berbeda. Ini mirip seperti petak umpet, namun selain mencari teman lain yang bersembunyi, si penjaga juga harus menjaga bola agar tidak di tendang.. hahah). Baiklah kembali lagi kepada bintang. Ya pada saat itu malam hari, tepat pada bulan ramadhan, kami bukannya ikut bertadharus malah bermain tempuran. Aku cukup ingat pada waktu itu aku memakai kaos hitam polos, bingung hendak bersembunyi dimana, berlari ke arah sana-sini sudah terpakai oleh anak-anak lainnya untuk bersembunyi. Aku yang kebingungan akhirnya memilih untuk langsung berebah diatas rerumputan di pinggir sungai, berharap hitamnya malam dan hitamnya kaosku dapat menyamarkanku. Dan benar saja, tak ada yang berpikir akan ada seorang anak gadis 6 tahun berani tiduran seorang diri di pinggir sungai (karena memang di daerah sungai itu sepi sekali), tak ada yang menemukanku, mereka pikir aku lari pulang dan berhenti ikut permainan secara sepihak. Sedangkan aku tetap diam rebahan menunggu untuk di temukan. Nah pada saat itu akhirnya pertama kali aku menatap bintang malam, yang kebetulan langit sedang cerah. Dan seketika itu aku jatuh cinta. Jatuh cinta tidak ada obat, sangat cantik, sangat sungguh cantik. Aku jatuh cinta lagi dan lagi setiap malam. Bintang pada malam itu membutakan lupa akan ras takut menjadi seorang diri di gelapnya malam, seperti mereka mengatakan bahwa gelap itu tidak menakutkan, dan menjadi sendiri tidak membuatmu menjadi lemah. Belakangan aku tau, meski bintang telihat bersama-sama dari bumi, sebenarnya mereka saling berdiri sendiri, berjauhana satu-sama lain, tapi mereka mampu membentuk rasi bintang yang teramat indah. Sejak malam itu akhirnya aku seringkali menyempatkan menatap bintang setiap malam, terutama saat malam cerah dan tidak berawan.

Foto ini diambil dua tahun yang lalu, pada 2020. Di puncak Kawah ijen. Tapi, foto ini adalah hasil edita. Foto aslinya memiliki background langit yang biru cerah, dan bukan berbintang. Ini merupakan foto editan bintang ku yang pertama, menggunakan photosop. hehe saking inginnya foto dengan background bintang, tapi belum punya kamera yang memadai. 


Aku selalu bertanya-tanya, apakah aku menatap bintang yang sama dengan orang yang berada di Jakarta atau di Paris, apakah langit mereka berbeda. Apakah aku menatap bintang yang sama pada malam  senin dan malam kamis? Aku akui meskipun aku sangat mencintai bintang, tapi ilmu pengethauan astronomiku sangat rendah. Hahaha. Aku mencintai bintang dari arah yang berbeda, tidak cukup dalam jika di bidang sains, tapi aku tetap mencintai sainsJ.  Setelah kutimang-timang, aku tetap tidak tau. Hari ini aku tidak berada di Paris, tapi aku dekat dengan Paris. Nama kotanya Flensburg, kota kecil di ujung utara Jerman, berbatasan dengan Denmark, kira-kira 10 jam naik kereta ke Paris. Aku tak banyak menatap bintang disini, bukannya tak mau, tapi kebetulan saat ini adalah musim dingin. Aku benar-benar tak tahan untuk berdiam diri di luar ruangan di malam hari. Sesekali jika memang aku ada urusan untuk keluar rumah di malam hari, tentu saja tidak pernah ku lewatkan untuk menatap bintang. Namun demikian, malam hari di musim dingin, seringkali banyak awan dan mendung, bintang jarang sekali terlihat. Tapi aku sudah berhasil memandang bintang sekali-dua kali. Tetap cantik dan menawan. Tapi aku belum berhasil menyimpulkan apakah bintang yg kulihat dari kota kecilku sama dengan bintang yang ku lihat dari sudut kota kecil di Jerman utara ini. Tapi biar bagaimanapun, bintang itu selalu menakjubkan.

Bintang, sekumpulan batu panas di ruang angkasa yang sunguh telihat menawan dari planet bumi, dan lain sebagainya definisi bintang menurut KBBI atau ilmuwan pada umumya. Bagiku bintang adalah temanku, sahabt yang mengingatkan akan kebesaran Tuhan, sahabat yang mendengarkan aku di kala sedih dan bahagia. Bintang adalah saksi tangis-tangisku setiap malam saat aku ceritakan padanya tentang masa-masa bratku. Aku tau bintang tidak selalu terlihat di langit, bahkan ketika malam hari pun bintang tidak selalu terlihat terang dan menyenangkan, tapi aku tau, aku tau bahwa bintang tidak pernah pergi. Dia selalu ada di tempatnya, diam tak kemana-mana. Bintang adalah satu-satunya teman yang ku ceritakan semuanya masalahku tiada batas.

sekian, hihi. 

Jumat, 04 Desember 2020

Thousands stories with me part 1

 Jumat, 4 Desember 2020


Mungkin ada sejuta penat dalam otakku, urat sarafku sedang bekerja semaksimal mungkin untuk memahami rentetan huruf yang merangkai istilah-istlah dalam bahasa asing itu, bahasa inggris. Bukannya aku tak cukup tau makna dari istilah bahasa asing itu, namun lebih dari sekedar tau akupun juga harus memahami, makna dan penerapannya. Tidak banyak waktu tersisa, hanya hitungan jari aku mungkin akan segera mendapati tes TOEFL. Mungkin? Kenapa mungkin? Apakah ini belum pasti? Ya benar. Belum pasti.  Jika lebih baik mengambil jadwal tes di bulan selanjutnya, mungkin akan lebih baik sebab aku bisa siapkan lebih matang agar tak lagi buang-buang duit. Sebab itu pagi, siang, sore dan malampun kuhatamkan kitab longman ku itu, kubawa tidur kebawa kemari, sampai rasanya otakku suntuk, mencoba memahami bagian-bagian yang rumit. Seperti ada benang kusut yang tak mau diluruskan di otakku. Sehari ini aku hanya berhasil belajar 2 bab, tapi itupun juga tak cukup lekat. Sedikit-sedikit harus membolak-balik halaman demi melihat lagi pola kalimat. Belum lagi masalah ini selesai, tugas lain datang menyambar. Sebenarnya aku senang bahwa aku punya banyak pekerjaan untuk kulakukan, tak banyak waktu yang tebuang sia-sia. Tapi dalam jiwaku masih ada intesintas kemalasan yang tinggi hahaha. Aku tau ini tak benar, yang perlu kulakukan adalah menata lagi niat dan langkah. Aku sempat menyusuri profil teman-teman jermanku yang dari FUAS, disana seorang teman menuliskan, “From now start everything with a question “Does it support me to the life I want to create?”. It could be a new mantra”. Jadi, mulai hari ini set up dulu aku ingin kehidupan yang bagaimana, yang seperti apa, then i can decice wether it could support me or not.

Tadi pagi juga kucoba membuka profil akun kakak angkatan yang juga kini menjadi guruku, aku suka tulisannya. Aku suka cara beliau menorehkan isi di kepala dalam untaian kata-kata, sebab karyanya tak pernah gagal membuatku jatuh cinta. Tapi nihil, rupanya di akun instragramnya karya-karya lamanya yang menyentuh jiwa sudah tak lagi ada, kemana? aku tak tau. Tapi aku tak kehabisan akal, rupanya beliau pindah semua seisinya ke blog milikinya. ternyata dugaanku salah, bukannya beliau pindah platform. Rupanya dari blog itulah semuanya berawal. Beliau menuliskan apapun yang ada di kepala, tapi kulihat dari isi tulisannya tidak lepas dari reseacrh. kalian tau researach? itu mengkaji. Jadi untuk menulis suatu tulisan juga perlu mengkaji, entah wawancara atau dengan membaca tulisan-tulisan orang. Dari blog beliaulah akihrnya aku bertekad untuk melanjutkan blog ini, aku belum tau bagaimana caranya membuat tulisan ini dibaca oleh pemabaca lainnya, tapi tak apa dulu. aku akan tetap menulis sebab dengan menulis otakku rasanya melumer lagi. hehe, bukankah sudah ku tulis diatas aku sedang pusing memikirkan tes TOEFL yang kemungkinan besar akan kudapatkan dalam dua minggu mendatang sedangkan persipakanku belum bisa dibilang matang. hemmm, but it's okay. masih ada waktu untuk mempersiapkan, jangan kendor, jangan patah semangat. Tidak mengapa jika malam-malam kuhabiskan dengan bertekur asik dengan buku-buku dan jurnal, kajian dan bacaan, tidak mengapa jika aku harus kurang tidur dan main. Aku tak ingin jadi yang terbaik, tapi aku ingin lakukan yang terbaik.
Aku bukan ahli fisika, tapi ada satu hukum fisika yang ku hapal benar makna dan matranya yaitu hukum Newton 1 atau hukum kelembaman atau hukum kemalasan.

"Jika resultan gaya pada suatu benda sama dengan nol, maka benda yang diam akan tetap diam dan benda yang bergerak akan tetap bergerak dengan kecepatan yang konstan selama tidak ada gaya eskternal yang mengenainya" 

teks diatas merupakan versi ilmiahnya. Ada satu hal yang kupelajari dari hukum alam itu, kau tau apa? benda yang diam akan relatif tetap diam, jadi kalau aku bermalas-malasan akan tetap terus malas
sedangkan benda yang bergerak relatif terus bergerak, demikianlah jika aku terus berusaha maka akan relatif malas untuk berhenti berusaha
"saat aku telah mulai berlari untuk mengejar mimpiku, maka berhenti berlari akan lebih sulit untuk kulakukan dari pada meraih mimpi itu sendiri" setidaknya ini yang ku ingat dalam hatiku.
aku tak punya opsi untuk menyerah atau tidak berusaha, sebab itu akan menganggu, merusak psikologiku sendiri. Maka disaat tersulitpun aku tak punya opsi untuk mundur, jika suatu waktu memang terasa sulit untuk bergerak maju, maka tak apa jika sekedar duduk dibawah pohon meneguk segelas air untuk rehat sejenak. Tapi tidak berhenti ditengah dan melepas mimpi itu. 

Baiklah kembali lagi ke topik pembahsan hari ini, yaitu "TOEFL Tes". Masih ada banyak yang perlu kupahami, latian beribu-ribu soal pun jika hari kulakui, maka tak ada opsi untuk undur diri. Well, I am not going to explain more about what TOEFL is, bcs this part is just kinda my diary life, hahaha. but somehow if I get a better understanding I probably would like to write some more tips and trick or maybe some of course material I studied so. 
Baiklah, terima kasih jika telah membaca sampai akhir. 
Semoga hari esok lebih baik

Wasalamualaikum




Senin, 30 November 2020

Welcoming page

WELCOMING PAGE


 
'' Hiii everyone. I am welcoming you on this random page where I write all things in my mind. It doesn't matter to not read this, but I am going to type all the best for me, and definitely for you too, who are kindly reading this weird page, well here is me my self.

Juni dan Rasa Lelah

  Rabu, 4 Juni 2025. Hai, ada kalanya aku lelah menjadi guru di sekolah. Aku lelah mengajar di kelas. Aku tidak bersemangat untuk bangun pag...